Kecerdasan Imam Abu Hanifah

  • Oleh Zahid As-Satria
  • Sumber: Biografi 10 Imam Besar, karya: Syaikh Muhammad Al-Jamal

Muhammad bin Muqatil berkata, “Seorang laki-laki tidak dikenal datang menemui Abu Hanifah, untuk menguji kekuatan pemahaman dan kecerdasannya, seraya berujar, “Hai Abu Hanifah!” Abu Hanifah menjawab, “Labbaik wahai saudaraku.”

Laki-laki itu berkata, “Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki, yang tidak mengharapkan surga, tidak takut neraka, tidak takut Allah, memakan bangkai, shalat tanpa ruku’ dan sujud, ia bersaksi atas apa-apa yang tidak ia lihat, membenci kebenaran, senang terhadap fitnah, lari dari rahmat, serta mempercayai Yahudi & Nasrani?”

Abu Hanifah; “Hai fulan, engkau bertanya tentang masalah ini, apa engkau tahu jawabannya?”

Laki-laki itu; “Tidak, saya tidak tahu.”

Abu Hanifah berkata kepada sahabat-sahabatnya; ”Apa pendapatmu tentang orang ini?”

Sahabat Abu Hanifah, ”Ia adalah sejelek-jelek manusia, sifat-sifat yang ia sebutkan telah cukup untuk mensifatinya demikian.” Abu Hanifah tersenyum dengan jawaban ini, lalu berkata; ”Orang itu benar-benar termasuk waliyullah, apa engkau mau untuk mencegah lisanmu dari perkataan yang jelek?” Laki-laki itu berkata; ”Baik, saya akan menahan lidahku untuk tidak menyakiti orang lain dengan lidahku ini”

Abu Hanifah berkata; ”Adapun perkataanmu, bahwa ia tidak mengharapkan surga, dan tidak takut neraka, itu karena ia mengharapkan pemilik surga serta takut kepada pemilik neraka. Adapun perkataanmu; bahwa ia tidak takut kepada Allah, itu karena ia tidak takut bahwa Allah akan berbuat tidak adil kepadanya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT, ”Sesungguhnya Tuhanmu tidak akan berbuat dhalim sedikitpun kepada hamba-Nya” (QS. Fushshilat: 46)

Adapun perkataanmu bahwa ia makan bangkai, itu karena ia makan ikan. Adapun perkataanmu bahwa ia shalat tanpa ruku’ dan sujud, itu artinya ia mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, atau shalat jenazah. Adapun perkataanmu bahwa ia bersaksi terhadap apa yang ia tidak lihat, itu artinya ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu hamba dan Rasul-Nya.

Adapun perkatanmu bahwa ia membenci kebenaran, itu artinya ia membenci kematian, karena kematian merupakan kebenaran, ia juga mencintai keabadian sehingga ia bisa mentaati Allah SWT, sebagaimana yang difirmankan, ”Telah datang sakratul maut dengan kebenaran.” (QS. Qaf: 19)

Adapun perkataanmu bahwa ia menyukai fitnah, itu artinya ia mencintai harta dan anak, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu merupakan fitnah.” (QS. At-Taghabun: 15)

Adapun perkataanmu bahwa ia lari dari rahmat, maksudnya adalah lari dari hujan (yang merupakan gerimis dan rahmat). Adapaun perkataanmu bahwa ia mempercayai yahudi dan nasrani, maksudnya adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, ”Dan orang-orang Yahudi berkata bahwa orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan, dan orang-orang Nasrani berkata bahwa orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai suatu pegangan” (QS. Al-Baqarah: 113)

Laki-laki itu kemudian berdiri, lalu mencium kening Abu Hanifah, seraya berkata; ”Aku bersaksi bahwa apa yang engkau ucapkan itu adalah benar.” []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s