BNPT Masuk Kampus: UI Jadi Sasaran BNPT?

Agenda deradikalisasi kini kian digencarkan oleh BNPT ke berbagai kampus. Rabu, (22/12) Himpunan Mahasiswa Kriminologi Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengadakan diskusi bertajuk ‘bincang-bincang bersama mantan teroris’.

Acara itu adalah sebuah rangkaian acara Peace Building 2011: “Terror Around Us” di Kampus UI Depok yang berlangsung selama sepekan dari hari Selasa-Jum’at (20-23/12) dan melibatkan berbagai pembicara.

Dalam kesempatan kemarin, sejumlah pembicara yang dihadirkan diantaranya Nasir Abbas (Ex Mantiqi III Jama’ah Islamiyah), Ustadz Abdurrahman Ayub (eks Jamaah Islamiah/JI), dan Soekanto dari NII Crisis Center.

Tampaknya, sedari awal adrenalin para peserta sudah digiring untuk meyakini bahaya teroris berada di sekitar mereka. Sebuah layar besar bertuliskan “Persiapkan Diri Anda, Teroris Datang Ke UI”, sengaja di taruh pada kedua sisi panggung.

Dalam acara yang berlangsung di FMIPA tersebut, diskusi lebih kepada cerita tiap narasumber ketika aktif di jama’ah masing-masing. Mereka menjelaskan lika-liku ketika aktif di NII dan JI hingga memilih keluar dari organisasi tersebut.

Nasir Abbas, ex mantiqi III menuturkan pengalamanya saat mengaji di NII. Saat di Afghan, Nasir mengaku mengikuti usrah tiap hari Jum’at sore. Proses masuk ke NII pun dilakukan tanpa sepengetahuan Nasir. “Saya gak pernah daftar jadi NII atau mengisi formulir tentang NII. Saya hanya tahu ketika saya berjabat tangan dengan Abdullah Sungkar, saat itu saya dibaiat menjadi NII,” ungkapnya.

Pada perkembangannya Nasir memilih keluar dari NII dan gabung bersama JI. Akan tetapi, keberadaannya di JI pun tidak berlangsung lama. “Mereka terkontaminasi dengan misi Osama,” kata pria kelahiran Singapura ini.

Kepada mahasiswa Nasir berujar bahwa mengikuti usrah tentu tidak dilarang, namun sikap kritis mesti dikedepankan. “Dalam menuntut ilmu, kita harus bersikap kritis. Usrah boleh saja, tapi tanya rujukannaya. Jangan taklid buta,” ujarnya.

Hal ini juga turut diamini oleh Abdurrahman Ayyub. Alumni Afghan periode 80-an tersebut meminta para mahasiswa untuk tidak hanya belajar pada satu ulama. “Kita harus terbuka untuk dialog dengan ulama-ulama lainnya,” ujarnya yang kini aktif di Radio Rodja dan menjadi amir salafi Bintaro dan sekitarnya.

Pada sesi tanya jawab para peserta tampak kritis terhadap apa yang disampaikan pembicara. Angga, salah seorang mahasiswa UI mengatakan acara ini terkesan diskriminatif dalam membahas terorisme.

Terorisme seakan hanya dinisbatkan kepada agama Islam. “Kenapa kok acara ini hanya membidik terorisme di dalam umat Islam saja. Padahal di agama lain juga ada terorisme,” ungkapnya.

Simpang siurnya sasaran dalam acara ini juga menjadi perhatiannya. Menurut Angga, penjelasan mengenai usrah dan kaitannya dengan NII akan menggiring opini bahwa usrah adalah lahan teroris. Padahal usrah adalah tempat mahasiswa menimba ilmu keIslaman seperti yang biasa dilakukan Lembaga Dakwah Kampus.

BNPT Tidak Perlu Masuk Kampus!

Dalam mengatasi gerakan radikal yang mengarah terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tidak perlu masuk di kampus atau sekolahan.

“Kampus dan sekolah sebenarnya memiliki sistem tersendiri untuk mencegah faham radikal masuk ke lembaga itu,” kata Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Pusat Mustofa B Nahrawardaya kepada indonesiantoday melalui surat elektronik (email), Rabu (21/12).

Menurut Mustofa, karena kentalnya kepentingan BNPT, maka banyak alasan yang bisa dipakai agar sosialisasi semacam ini bisa dilakukan di kampus maupun sekolahan.

“Apakah kita masih ingat, peristiwa “konon” adanya bom di hutan UI beberapa waktu lalu? BNPT sudah bicara dimana-mana bahwa peristiwa itu menandakan paham dan aksi radikal serta terorisme sudah memasuki kampus,” jelas Mustofa.

Kata Mustofa, akhirnya tak ditemukan apapun di Hutan UI. “Dengan adanya peristiwa itu, mau tak mau UI harus menerima program BNPT,” paparnya.

Selain itu, Mustofa juga menyoroti kegiatan mahasiswa kriminologi Fisip UI yang mendapat bantuan dari BNPT perlu adanya transparansi penggunaan anggaran. “Kalau memang murni agenda deradikalisasi, silahkan dilaporkan kepada masyarakat, berapa dana yang diterima dari BNPT,” pungkas Mustofa. (eramuslim/NMJ)

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s