Eforia Meninggalnya Gaddafi dan Pelajaran Untuk Pemimpin Arab dan Sekitarnya

Kematian pemimpin diktator Libya Muammar Gaddafi akan mengirimkan pesan yang jelas kepada para pemimpin Arab lainnya yang berjuang untuk tetap berkuasa melawan kehendak rakyat mereka, beberapa warga Arab mengatakan Kamis kemarin (20/10).

Ratusan warga Libya di seluruh negeri merayakan kematian diktator Muammar Gaddafi, yang ditembak mati oleh para pejuang Libya di kota di utara, Sirte.

Warga di kota timur Misratah turun ke jalan menggunakan kendaraan mereka pada hari Kamis kemarin untuk bersukacita atas peristiwa ini.

“Ini adalah nasib seorang pemimpin yang menghancurkan kehidupan rakyatnya selama beberapa dekade dan menembaki mereka sebelum kematiannya,” kata Muhammad Beltagy, anggota senior Ikhwanul Muslim Mesir yang berpengaruh.

“Nasib Gaddafi seharusnya menjadi pelajaran bagi pemimpin Suriah Bashar al-Assad dan Ali Abdullah Saleh Yaman,” katanya, mengacu pada dua kepala negara Arab yang telah berusaha untuk meredam kerusuhan dengan tentara mereka.

“Neraka menunggu Gaddafi. Saya benci untuk bersukacita dalam kematian siapa pun, tapi apa yang dia lakukan terhadap rakyatnya adalah mengerikan,” kata Nancy al-Kassab, seorang eksekutif produser televisi Mesir.

“Kematian Gaddafi akan menakut-nakuti diktator Arab seperti Assad dan Saleh, dan membuat para pemimpin Arab lainnya lebih berhati-hati dengan rakyat mereka setelah mereka pulih dari shock mendengar berita ini,” kata Alia Askalany, 27 tahun, seorang manajer pemasaran Mesir.

Di Libya, banyak warga hampir tak bisa menahan kegembiraan mereka.

“Terima kasih Allah … Dengan pemberontak ini semua tercapai dan kami berterima kasih kepada semua orang yang membantu kami dan kami sangat bahagia,” kata Khalid Al-Asoud, seorang pejuang Libya berusia 35 tahun.

Di Yordania, Abdullah al-Khatib, mantan utusan khusus PBB untuk Libya dan pernah menjabat sebagai menteri luar negeri Yordania, mengatakan:

“Entah bagaimana sistem serupa lainnya di wilayah tersebut harus menarik kesimpulan dan mendengarkan suara rakyat serta harus menciptakan kondisi dimana masyarakat di kawasan tersebut bisa bebas dan terbuka menentukan masa depan dan takdir mereka sendiri.”

Aktivis di pusat kota Suriah Homs mengatakan bahwa orang-orang merayakan kematian Gaddafi di jalanan. Beberapa plakat yang diusung mengatakan: “Tikus Libya telah tertangkap, berikutnya adalah kuman Suriah.” Sebuah pesan yang jelas untuk mengatakan Bashar al-Assad.

Perdana Menteri Dewan Nasional Transis Mahmud Jibril, mengatakan sebelumnya bahwa kendaraan yang membawa Gaddafi dari tempat persembunyiannya terjebak dalam baku tembak antara pejuang Gaddafi dan pasukan revolusioner, dan ia ditembak di kepala.”

Pejuang NTC juga berkumpul di Lapangan Syuhada di ibukota Tripoli untuk merayakan kematian diktator Gaddafi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon meminta Libya untuk datang bersama-sama dan membentuk masa depan negara melalui persatuan nasional dan rekonsiliasi.

“Pada hari-hari mendatang, kita akan menyaksikan adegan perayaan, serta kesedihan bagi mereka yang kehilangan begitu banyak harta dan jiwa,” katanya. “Namun mari kita segera mentuntaskan masalah ini hingga ke akhirnya.”

“Jalan ke depan untuk Libya dan rakyatnya akan sulit dan penuh tantangan.”

Tetapi beberapa mempertanyakan berapa banyak efek domino atas kematian Gaddafi yang mungkin terjadi di tempat lain di kawasan itu, termasuk Yaman, dimana Presiden Saleh telah menempel pada kekuasaan dalam suatu bangsa tercabik-cabik oleh konflik suku bahkan setelah ia terluka dalam sebuah serangan yang mendorong dia untuk melakukan pengobatan di negara tetangga Arab Saudi.

“(Gaddafi) layak untuk itu, dia membunuh banyak orang. Saya tidak percaya ini akan terjadi di Yaman karena ada banyak perpecahan di sana, “kata Omran Ahmad, seorang warga Yaman yang tinggal di Mesir.

Mantan perdana menteri Libanon, Saad al-Hariri, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kematian Gaddafi seharusnya menjadi pelajaran bagi pemimpin yang telah mengadopsi penindasan sebagai metode untuk mendominasi rakyat mereka.

“Setiap warga negara Arab, menyaksikan jalannya peristiwa di Libya, tidak bisa tidak bagaimana berpikir tentang gerakan revolusioner rakyat yang terjadi di Suriah,” katanya menegaskan.

Berkuasa sejak tahun 1969, Gaddafi mulai kehilangan cengkeraman pada kekuasaannya pada Februari dengan pecahnya revolusi rakyat melawan rezim despotiknya.

Gaddafi adalah diktator pertama yang tewas dalam gelombang pemberontakan rakyat dan revolusi, yang mulai menyapu Afrika Utara dan Timur Tengah pada hari-hari terakhir tahun 2010. (eramuslim)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s