Deradikalisasi Islam: Program Melenyapkan Syariat dan Merubah Agama

Pasca runtuhnya Uni Soviet, Islam menjadi kekuatan baru yang ditakuti Barat. NIC pun memprediksi akan berdirinya model kepemimpinan Islam di tahun 2020. Barat sadar akan posisinya, maka untuk melumpuhkan kekuatan umat muslim, mereka memainkan proyek Deradikalisasi.

Ketua Umum Front Pembela Islam, Habib Rizieq Shihab, menilai langkah deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme berdasarkan hasil penelitian Setara Institute sangat membahayakan. Alih-alih mengaku ingin meredam aksi terorisme, langkah Deradikalisasi ini justru ingin merubah agama.

“Deradikalisasi bukan saja melenyapkan jihad, tapi juga melenyapkan syariat dan ingin merubah agama.” Kata Habib Rizieq Shihab dalam diskusi bertema Memerangi Syariat Jihad dengan Deradikalisasi, Minggu, 9/10 di Mesjid Muhammad Ramadhan, Bekasi.

Habib Rizieq pantas gusar. Dari hasil pembacaannya, tolak ukur poin yang dijadikan kriteria fundamentalis sangat bermasalah. Salah satunya adalah berpedoman kepada Al Qur’an, padahal itu bagian dari kewajiban umat muslim.

“Dari laporan setara Institute, umat Islam yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman disebut fundamentalis.” Tambah ulama yang memegang draft power point tujuh langkah program deradikalisasi BNPT ini.

Selanjutnya Setara Institute juga menuding penafsiran para ulama salaf adalah pemicu dari munculnya tindak kekerasan atas nama agama. Maka tidak heran salah satu butir yang diambil BNPT dalam program deradikalisasi adalah menindak dengan tegas pelaku kekerasan atas nama agama.

Ternyata ujian yang akan dihadapi umat muslim belum usai. Satu kriteria yang terdengar lucu dari riset yang dibiayai lembaga dari Amerika, United States Agency for International Development (USAID) itu bahkan mempersoalkan sebuah penamaan. Ya penamaan kelompok, organisasi, jama’ah muslim yang jelas-jelas mengambil dari Al Qur’an masuk ke dalam kategori fundamentalis.

“Berarti menurut Setara Institute, Muhammadiyyah juga fundamentalis, karena nama Muhammad diambil dari Al Qur’an. Tapi kalau pakai nama Setara Institute tidak radikal, termasuk Forum Homoseks,” kata Habib disambut tawa para Jama’ah.

Maka itu tujuan dari deradikalisasi ini memang akan merubah agama. Deradikalisasi nanti tidak akan lagi mempersoalkan atheisme dan murtad, karena itu bagian dari kebebasan beragama. “Pluralisme akan dikampanyekan mulai sejak dini sampai universitas.”

Dalam kesempatan yang sama, Munarman, menyatakan bahwa penelitian Setara Institute adalah kepanjangan tangan dari proyek Deradikalisasi yang sudah direncanakan oleh Amerika. Mereka menyewa Rand Corporation yang notabene adalah kaki tangan zionis.

“Deradikalisasi merupakan proyek panjang yang tidak akan berhenti hingga akhir zaman,” kata Munarman.

Dalam Dokumen berjudul Deradicalizing Islamis Extremists, Barat faham betul bahwa untuk melumpuhkan seluruh sel umat muslim tidak cukup hanya dengan cara penangkapan dan pembunuhan. Kalau dibunuh, mujahid masih bisa muncul lagi. Maka upaya yang mereka melakukan sangat mendasar, yaitu membelokkan pemahaman syariat Islam dan jihad yang difahami umat Islam saat ini.

Rand Corporation sendiri adalah lembaga yang berjasa besar dibalik proyek ini. Pada tahun 2007 mereka melakukan riset di banyak Negara muslim untuk memetakan kekuatan umat. Mereka bekerja pada misi zionisme.

“Dari hasil laporan itu, mereka menyerahkannya kepada Amerika Serikat. Mereka dikontrak oleh AS untuk mengetahui kehidupan umat muslim. Ini supaya Amerika dapat membuat kebijakan di Negara-negara muslim, seperti Indonesia.” sambung mantan ketua YLBHI ini.

Dari hasil penelitian, Rand kemudian melakukan klasifikasi. Setidaknya ada empat klasifikasi yang dilabelkan Rand ke tubuh umat muslim. Pertama adalah Kelompok Fundamentalis. Ciri-cirinya ada empat, yaitu mereka pro penegakan syariat Islam, berjuang untuk menegakkan khilafah Islamiyah, anti demokrasi dan juga kritis terhadap Barat.

“Maka status kelompok fundamentalis ini bagi Barat berbahaya. Cara menanggulanginya adalah habisi!” tambah Munarman di acara yang juga dihadiri Habib Rizieq Shihab dan Ustadz Abu Jibril ini.

Selanjutnya ada pula kelompok tradisionalis. Pada dasarnya, kelompok ini pro terhadap Syariat Islam dan Khilafah, tapi mereka masih bisa menerima demokrasi. Kelompok ini diupayakan Barat untuk tidak dekat dengan kelompok fundamentalis. Maka cara yang dimainkan Barat adalah adu domba, “Mereka harus diprovokasi untuk bertentangan pada masalah-masalah yang sifatnya furu’ dalam Islam.” Lanjut Munarman dihadapan 300-an jama’ah.

Dua kelompok tersisa, modern dan sekularis, adalah kelompok yang bertolak belakang dengan barisan fundamentalis dan tradisionalis. Mereka pro demokrasi, tidak setuju Syariat Islam dan penegakkan Khilafah, “Meski kritis dengan Barat, kelompok Modernis masih bisa dibina. Tujuannya untuk dijadikan pemimpin di negeri-negeri muslim. Jangan heran gelar mereka banyak Profesor Doktor,” tambah Munarman.

Selanjutnya kata Munarman, rekomendasi Rand ternyata tidak saja mensasar kalangan modernis, tapi juga mujahid. Hal ini dapat terlihat dari berbeloknya beberapa kalangan yang pernah turun berjihad. Salah satu pendekatan yang dimainkan adalah ekonomi.

“Orang-orang yang sudah berjihad itu kemudian harus diberi modal hingga mereka nantinya hanya disibukkan dengan akfititas dagang saja,” tutur Munarman

Untuk kasus Indonesia, banyak para tokoh yang menjadi narasumber proyek ini semua. Setidaknya, Munarman memberkan beberapa nama seperti Ansyad Mbai (Ketua BNPT), Nassir Abbas (Alumni Afghan), dan Goris Mere (Kepala Pelaksana Harian BNN). (eramuslim/mugiwara no nakama)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s